121209
Temanku tersayang…..
Apa kabarmu di sana?Baik-baik sajakah dirimu?Lama kita tak bersua. Aku sungguh merindukanmu. Meski jarak kini membentang di antara kita namun hati akan selalu terpaut dalam ikatan persahabatan yang abadi ini.
Temanku tersayang…
Sudah lama aku menyimpan hal ini rapat-rapat. Yah, aku merahasiakan ini darimu dan dari semua orang. Bukan karena aku tak percaya padamu, kau adalah salah satu teman terbaik yang pernah ku miliki. Semua yang telah kita lalui bersama membuatku tahu pasti bahwa aku selalu bisa mengandalkanmu. Hanya saja entahlah, untuk hal ini aku tidak punya keberanian. Aku malu, terlalu malu untuk menceritakannya. Hingga bertahun-tahun menanggungnya sendiri, dan kini aku tak mampu lagi .Maka aku berusaha merangkainya dengan kata-kata dalam surat ini agar tak ada lagi rahasia apapun di antara kita. Sudah saatnya kamu tahu semuanya….
Temanku tersayang….
Pernahkah kamu jatuh cinta?
Suatu pertanyaan bodoh memang. Padahal aku sudah tahu jawabannya. Aku selalu ikut tersenyum melihat wajahmu yang berbunga-bunga ketika itu. Bukan hanya sekali, mungkin dua, tiga kali, atau lebih. Terkadang aku iri padamu yang begitu mudah jatuh cinta dan kemudian mendapatkan balasan dari orang yang kau cintai. Walaupun aku juga selalu tak tega melihatmu bersedih tiap kali kehilangan cinta itu. Tapi kamu selalu bisa melupakannya dengan mudah. Menyembuhkan luka dan kembali berjalan tegak bagimu bukan hal yang sulit. Betapa beruntungnya kamu….
Temanku tersayang….
Pernahkah kamu merasakan dirimu benar-benar mencintai seseorang?Bukan perasaan seperti ketika kamu jalan-jalan di mal dan tidak sengaja melihat sebuah sepatu yang sangat cantik dan mahal. Hingga sepatu itu terus terngiang dalam benakmu dan kamupun bertekad harus memilikinya. Meski harus berusaha keras mengumpulkan uang untuk mendapatkannya. Namun ketika sepatu itu menjadi kepunyaanmu, tidak perlu waktu yang lama baginya menemani setiap langkah kakimu. Karena segera ketika ia telah usang di matamu, ia akan bergabung dengan barang rongsokan lain di gudangmu, atau yang lebih parah, berakhir di tempat sampah…
Itu bukan cinta, itu hasrat untuk memiliki.
Cinta yang aku maksud berbeda, dia lebih tulus. Cinta yang membuatmu menyayangi seseorang dan setiap hal yang ada padanya tanpa syarat. Cinta yang tidak pernah menuntut apa-apa selain kebahagiaan dari orang yang kau cintai. Cinta yang membuatmu merasa sanggup melakukan apapun untuk dirinya. Cinta yang membuatmu ingin berubah lebih baik agar menjadi layak untuk mencintainya. Cinta yang selalu menjadi alasan bagimu untuk tetap tersenyum di pagi hari. Cinta yang selalu menerangimu dengan cahayanya, matahari bagi siangmu dan bintang untuk malammu. Cinta yang tersebar di seluruh penjuru biru langitmu dan setiap tetes biru lautmu. Cinta yang kadangkala membuat dadamu begitu sesak menahan perihnya. Cinta yang membuatmu merasa ingin sekali menghancurkan partikel-partikel otakmu yang selalu saja merekam memori tentangnya. Cinta yang membuat kau merasa hanya dia seorang, tak ada lagi yang bisa membuatmu berpaling.
Temanku tersayang……
Pernahkah kamu jatuh cinta pada sahabatmu sendiri? Dia yang selalu mewarnai hari-harimu dengan senyum dan canda, yang mendorongmu untuk bangkit ketika kau terjatuh. Dia yang selalu setia mendengarkan keluh kesahmu, yang sudah kau anggap seperti kakakmu sendiri…hingga kau sendiri bertanya-tanya bagaimana mungkin kau bisa jatuh hati pada saudaramu sendiri??? Beruntunglah kamu jik tidak pernah merasakannya. Mencintai sahabat sendiri adalah hal yang menyakitkan. Setiap hari kau harus meliputi diri dengan kebohongan. Berusaha terus berperan sebagai sahabat yang baik sedangkan hatimu terus menerus bergejolak menginginkan hal yang lebih tanpa pernah kau rencanakan. Harus terusberpura-pura biasa saja setiap kali bertemu dengannya, padahal jantungmu berdetak beberapa kali lebih kencang dari biasanya tanpa pernah kau inginkan. Semakin kau berusaha meredam perasaan itu, dia justru semakin tumbuh subur di hatimu. Berada di antara dua pilihan sulit. Ingin mengungkapkan perasaanmu padanya namun kau tidak ingin merusak indahnya persahabatan yang telah terjalin di antara kalian. Ingin berusaha membunuh perasaanmu dan melupakannya, namun tak ada cara…setiap udara yang berhembus di sekelilingmu selalu membisikkan namanya. Tak ada tempat untuk lari, tak ada ruang untuk bersembunyi karena duniamu adalah dunianya. Dia telah menjadi bagian dari hidupmu.
Temanku tersayang……
Ketika kau membaca surat bodoh ini, aku yakin kau akan tertawa. Ini memang kedengaran konyol. Tapi inilah yang terjadi padaku. Aku tidak sedang menceritakan kisah Keenan dan Kugy dalam Perahu Kertas, tidak juga kisah Niki dan Nata dalam Refrain, atau dari novel-novel lain yang telah ku baca. Ini murni kisahku. Cerita tentang kebodohanku yang terperangkap dalam perasaan aneh terhadap sahabatku sendiri. Pengakuanku tentang perasaan yang telah ku simpan selama betahun-tahun. Ku ceritakan padamu karena ku tahu berbagi denganmu selalu melegakanku.
Temanku tersayang…..
Tahukah kau hal apa yang paling aku inginkan sekarang???Melupakannya…walaupun hingga kini aku masih tak tahu caranya. Aku tidak boleh terus memelihara perasaan seperti ini dan membiarkannya tumbuh lebat di hatiku. Aku telah berjanji untuk tidak mencintai siapapun sebelum mencintaiNya, sang Maha pemilik cinta dengan sepenuh hati. Aku hanya ingin mencintai karena cintaku padaNya. Aku memang bukan orang yang begitu agamis, aku hanya manusia biasa dengan segudang dosa. Tapi aku tahu, satu-satunya cinta yang suci antara sepasang insan hanyalah cinta dalam ikatan pernikahan. Dan aku hanya ingin mempersembahkan cinta itu hanya pada suamiku kelak. Dan bagiku belum saatnya untuk memikirkan hal itu, masih terlalu jauh. Kau tahu ku punya sejuta mimpi yang ingin kuwujudkan terlebih dahulu…
Temanku tersayang….
Tanpa terasa surat ini sudah begitu panjang. Matamu kini mungkin cukup lelah membacanya. Sungguh suatu kesyukuran memilikimu sebagai seorang sahabat yang selalu setia mendengarkan curahan hatiku. Sekali lagi, kau boleh saja menertawakan kebodohanku. Ini memang terdengar seperti lelucon, seperti cerita dalam novel. Kau tak akan pernah mengerti kecuali kau mengalaminya sendiri. Tapi ku harap hal ini tidak terjadi padamu, cukuplah aku yang menderita seperti ini. Doakan selalu yang terbaik untukku, sebagaimana selalu terucap dalam tengadah kedua tanganku di hadapanNya. Semoga Allah selalu menjagamu….
Sahabatmu….