Stars in Your Eyes

Setitik Cahaya di Jendela Hati...


Di menit-menit terakhir 1430 H....

Mungkin hanya sedikit yang menyadari kalau hari ini adalah hari terakhir bulan Zul Hijjah atau dengan kata lain sebentar lagi 1 Muharram 1431 H.

Akan sangat berbeda jika ini pergantian tahun Masehi. Suasana gegap gempita, yang bahkan telah terasa beberapa minggu sebelumnya. Hiruk-pikuk manusia, kemacetan di sepanjang jalan, bising, bunyi terompet, tempat hang-out penuh sesak oleh manusia-manusia yang berpesta,, dan berbagai macam bentuk perayaan yang telah direncanakan jauh-jauh hari.

Memang tidak mungkin sih Tahun baru Hijriah dirayakan dengan cara-cara seperti itu. Namun jangankan untuk merayakan, saya malah tidak yakin kalau banyak yang menganggap hari ini adalah sebuah hari penting. Mending kalo tau. Atau juga ada sebagian yang tau hanya sekedar hasil ngecek kalender, karena kebetulan ditandai dengan warna merah, yang artinya libur, long weekend lagi. Selebihnya tak ada arti apa-apa.

Padahal Tahun Hijriah itu tahun kita, yang mengaku Muslim dan beriman kepada Allah dan RasulNya, serta meneladani para sahabat. Hmmm, kita memang harus lebih banyak merenung...

Penetapan Tahun hijriah sendiri bermula dari zaman kekalifahan Umar bin Khattab, pada saat itu ditetapkan bahwa tahun Hijriah dimulai dari peristiwa Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah.
Bukannya sok tau, atau sok alim, siapalah saya ini...ngomong aja masih suka ngalor ngidul..

Cuma mengajak untuk berhenti sejenak, merenung sejenak, agar salah satu hari penting bagi umat Islam ini tidak berlalu begitu saja. Paling tidak  kita mengambil hikmah dari peristiwa  hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah untuk menyebarkan agama Islam. Mungkin saat yang baik juga buat kita untuk 'hijrah' ke arah yang lebih baik. Hmmm.....tidak ada kata terlambat untuk hal yang baik, bukan?

Semoga kita masih diberi kesehatan sepanjang tahun 1431 H, terutama bertemu Ramadhan lagi. Semoga rahmatNya tetap tercurah pada kita semua..Amin.
Met Tahun Baru 1431 H kawan-kawan,,,,Kullu 'aamin wa antum bikhair..^_^






121209

Temanku tersayang…..
Apa kabarmu di sana?Baik-baik sajakah dirimu?Lama kita tak bersua. Aku sungguh merindukanmu. Meski jarak kini membentang di antara kita namun hati akan selalu terpaut dalam ikatan persahabatan yang abadi ini.

Temanku tersayang…
Sudah lama aku menyimpan hal ini rapat-rapat. Yah, aku merahasiakan ini darimu dan dari semua orang. Bukan karena aku tak percaya padamu, kau adalah salah satu teman terbaik yang pernah ku miliki. Semua yang telah kita lalui bersama membuatku tahu pasti bahwa aku selalu bisa mengandalkanmu. Hanya saja entahlah, untuk hal ini aku tidak punya keberanian. Aku malu, terlalu malu untuk menceritakannya. Hingga bertahun-tahun menanggungnya sendiri, dan kini aku tak mampu lagi .Maka aku berusaha merangkainya dengan kata-kata dalam surat ini agar tak ada lagi rahasia apapun di antara kita. Sudah saatnya kamu tahu semuanya….

Temanku tersayang….
Pernahkah kamu jatuh cinta?
Suatu pertanyaan bodoh memang. Padahal aku sudah tahu jawabannya. Aku selalu ikut tersenyum melihat wajahmu yang berbunga-bunga ketika itu. Bukan hanya sekali, mungkin dua, tiga kali, atau lebih. Terkadang aku iri padamu yang begitu mudah jatuh cinta dan kemudian mendapatkan balasan dari orang yang kau cintai. Walaupun aku juga selalu tak tega melihatmu bersedih tiap kali kehilangan cinta itu. Tapi kamu selalu bisa melupakannya dengan mudah. Menyembuhkan luka dan kembali berjalan tegak bagimu bukan hal yang sulit. Betapa beruntungnya kamu….

Temanku tersayang….
Pernahkah kamu merasakan dirimu benar-benar mencintai seseorang?Bukan perasaan seperti ketika kamu jalan-jalan di mal dan tidak sengaja melihat sebuah sepatu yang sangat cantik dan mahal. Hingga sepatu itu terus terngiang dalam benakmu dan kamupun bertekad harus memilikinya. Meski harus berusaha keras mengumpulkan uang untuk mendapatkannya. Namun ketika sepatu itu menjadi kepunyaanmu, tidak perlu waktu yang lama baginya menemani setiap langkah kakimu. Karena segera ketika ia telah usang di matamu, ia akan bergabung dengan barang rongsokan lain di gudangmu, atau yang lebih parah, berakhir di tempat sampah…

Itu bukan cinta, itu hasrat untuk memiliki.

Cinta yang aku maksud berbeda, dia lebih tulus. Cinta yang membuatmu menyayangi seseorang dan setiap hal yang ada padanya tanpa syarat. Cinta yang tidak pernah menuntut apa-apa selain kebahagiaan dari orang yang kau cintai. Cinta yang membuatmu merasa sanggup melakukan apapun untuk dirinya. Cinta yang membuatmu ingin berubah lebih baik agar menjadi layak untuk mencintainya. Cinta yang selalu menjadi alasan bagimu untuk tetap tersenyum di pagi hari. Cinta yang selalu menerangimu dengan cahayanya, matahari bagi siangmu dan bintang untuk malammu. Cinta yang tersebar di seluruh penjuru biru langitmu dan setiap tetes biru lautmu. Cinta yang kadangkala membuat dadamu begitu sesak menahan perihnya. Cinta yang membuatmu merasa ingin sekali menghancurkan partikel-partikel otakmu yang selalu saja merekam memori tentangnya. Cinta yang membuat kau merasa hanya dia seorang, tak ada lagi yang bisa membuatmu berpaling.

Temanku tersayang……
Pernahkah kamu jatuh cinta pada sahabatmu sendiri? Dia yang selalu mewarnai hari-harimu dengan senyum dan canda, yang mendorongmu untuk bangkit ketika kau terjatuh. Dia yang selalu setia mendengarkan keluh kesahmu, yang sudah kau anggap seperti kakakmu sendiri…hingga kau sendiri bertanya-tanya bagaimana mungkin kau bisa jatuh hati pada saudaramu sendiri??? Beruntunglah kamu jik tidak pernah merasakannya. Mencintai sahabat sendiri adalah hal yang menyakitkan. Setiap hari kau harus meliputi diri dengan kebohongan. Berusaha terus berperan sebagai sahabat yang baik sedangkan hatimu terus menerus bergejolak menginginkan hal yang lebih tanpa pernah kau rencanakan. Harus  terusberpura-pura biasa saja setiap kali bertemu dengannya, padahal jantungmu berdetak beberapa kali lebih kencang dari biasanya tanpa pernah kau inginkan.  Semakin kau berusaha meredam perasaan itu, dia justru semakin tumbuh subur di hatimu. Berada di antara dua pilihan sulit. Ingin mengungkapkan perasaanmu padanya namun kau tidak ingin merusak indahnya persahabatan yang telah terjalin di antara kalian. Ingin berusaha membunuh perasaanmu dan melupakannya, namun tak ada cara…setiap udara yang berhembus di sekelilingmu selalu membisikkan namanya. Tak ada tempat untuk lari, tak ada ruang untuk bersembunyi karena duniamu adalah dunianya. Dia telah menjadi bagian dari hidupmu.

Temanku tersayang……
Ketika kau membaca surat bodoh ini, aku yakin kau akan tertawa. Ini memang kedengaran konyol. Tapi inilah yang terjadi padaku. Aku tidak sedang menceritakan kisah Keenan dan Kugy dalam Perahu Kertas, tidak juga kisah Niki dan Nata dalam Refrain, atau dari novel-novel lain yang telah ku baca. Ini murni kisahku. Cerita tentang kebodohanku yang terperangkap dalam perasaan aneh terhadap sahabatku sendiri. Pengakuanku tentang perasaan yang telah ku simpan selama betahun-tahun. Ku ceritakan padamu karena ku tahu berbagi denganmu selalu melegakanku.

Temanku tersayang…..
Tahukah kau hal apa yang paling aku inginkan sekarang???Melupakannya…walaupun hingga kini aku masih tak tahu caranya. Aku tidak boleh terus memelihara perasaan seperti ini dan membiarkannya tumbuh lebat di hatiku. Aku telah berjanji untuk tidak mencintai siapapun sebelum mencintaiNya, sang Maha pemilik cinta dengan sepenuh hati. Aku hanya ingin mencintai karena cintaku padaNya. Aku memang bukan orang yang begitu agamis, aku hanya manusia biasa dengan segudang dosa. Tapi aku tahu, satu-satunya cinta yang suci antara sepasang insan hanyalah cinta dalam ikatan pernikahan. Dan aku hanya ingin mempersembahkan cinta itu hanya pada suamiku kelak. Dan bagiku belum saatnya untuk memikirkan hal itu, masih terlalu jauh. Kau tahu ku punya sejuta mimpi yang ingin kuwujudkan terlebih dahulu…

Temanku tersayang….
Tanpa terasa surat ini sudah begitu panjang. Matamu kini mungkin cukup lelah membacanya. Sungguh suatu kesyukuran memilikimu sebagai seorang sahabat yang selalu setia mendengarkan curahan hatiku. Sekali lagi, kau boleh saja menertawakan kebodohanku. Ini memang terdengar seperti lelucon, seperti cerita dalam novel. Kau tak akan pernah mengerti kecuali kau mengalaminya sendiri. Tapi ku harap hal ini tidak terjadi padamu, cukuplah aku yang menderita seperti ini. Doakan selalu yang terbaik untukku, sebagaimana selalu terucap dalam tengadah kedua tanganku di hadapanNya. Semoga Allah selalu menjagamu….

Sahabatmu….


Judul postingan ini dikutip dari salah satu judul  lagu Linkin Park [di album apa ya?lupa…]heran juga kenapa  saya bisa ngefans berat ma band rock macam gini, ckckckck.
Seperti judul lagu ini, this is my December, Desember 2009 ini adalah bulan saya. Desember selalu jadi bulan yang saya nanti-nantikan sekaligus bulan yang paling saya hindari, benci tapi rindu.  Tiap kali menyadari Desember datang  awalnya pasti shock, tau-tau sudah di penghujung tahun aja. Waktunya   mengecek daftar resolusi tahunan yang saya buat di awal tahun. Mana yang sudah tercapai, kenapa yang lain belum bisa tercapai dan mencoba mem-flashback apa saja yang telah saya lakukan untuk setahun ini. Evaluasi diri kembali.
Tapi di samping itu kedatangan bulan Desember juga membawa kebahagiaan. Akhir tahun, sebentar lagi tahun baru, saatnya membuka lembaran baru, menyusun rencana-rencana baru, membuat resolusi baru, merencanakan dan memetakan masa depan kembali. I Love this thing..Walaupun  pada akhirnya lebih banyak yang gak kesampaian, bahkan kadang gak ada satupun yang kesampaian, tapi saya tidak peduli. Buat saya yang penting dimulai dari niat dulu, bukankah Rasulullah sendiri bilang ‘innamal a’malu binniyat’?Segala sesuatu tergantung dari niatnya.  Bukankah dalam kebaikan, niat saja sudah dicatatkan pahalanya???Betul,betul, betul???Eh, koq jadi serasa ceramah gini yak??
Kembali ke soal resolusi tahunan…
Setelah mengaduk-aduk folder di Laptop akhirnya ketemu juga dengan file ‘resolusi 2009.doc’ itu, ketahuan banget jarang dibuka,xixixi….Ternyata saya menuliskan cukup banyak hal di sana.  Mulai dari hal-hal sepele seperti pola makan dan pola tidur [saya memang selalu bermasalah dengan hal ini sejak SMP sampe sekarang], sampai khayalan tingkat tinggi yang tak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Beberapa sudah terlaksana, beberapa masih dalam progress walaupun lambat, dan beberapa hal lain masih harus diusahakan dan didoakan.
Di antara semua resolusi itu, yang  terpenting  adalah target saya untuk menyelesaikan kuliah tahun ini juga. Alhamdulillah, 11 November lalu sudah tercapai. Tadinya pengen sharing tentang pengalaman itu di sini karena merasa hal ini cukup penting untuk dituliskan di blog, tapi sudahlah…Ternyata jadi Sarjana tidak sesulit yang saya bayangkan. Walaupun emang deg-degan seminggu, sempat gak bisa  makan dan tidur nyenyak, kepala kayak ditimpa beban sekuintal, tapi ketika semuanya berlalu rasanya plong, lega…tak ada beban.Selebihnya biasa saja…tak ada yang spesial setelah nama saya berubah menjadi Ismi Muthiah, ST. Yang ada sekarang ada bahan baru untuk dibingungkan, how to get money?mau kerja di mana?kapan kawin?huhuhu, serentetan pertanyaan klasik yang menjengkelkan.
Jadi, sambil nunggu acara wisuda, selain ngurus surat-surat dan berkas, ngurus pembayaran, nyari-nyari kebaya dan toga, Desember  ini kegiatan saya  adalah mencari lowongan pekerjaan. Untungnya juga punya teman-teman baik hati dan tidak sombong yang selalu bersedia memberikan info loker baru. Prinsip saya sekarang ini adalah mengambil setiap kesempatan yang ada di hadapan saya, dan mengusahakan  semua hal terbaik yang bisa saya usahakan, that’s it. Gak perlu banyak pertimbangan, gak pake gengsi, yang terpenting adalah memperkaya pengalaman.  Experience is the best teacher, pengalaman akan memperkaya pengetahuan kita tentang segala sesuatu. Saya yakin Tuhan akan memberikan jalan jika memang baik buat saya. Rejeki, jodoh, dan ajal adalah rahasiaNya…DIA tidak akan pernah mengecewakan hamba-hambaNya yang senantiasa berusaha dan meminta. HE’s always knows the best…